Oase Pengetahuan untuk menghilangkan dahaga spiritual para pencari "Kebenaran".

Biarkan Tuhan Memilihkan Untukmu yang Terbaik

3:29 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments
ANISA, gadis kecil yang ceria. Usianya baru beranjak lima tahun. Ia tumbuh dalam limpahan kasih saying orang tuanya. Pada suatu sore, Anisa menemani ibunya berbelanja di supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, pandangan Anisa jatuh pada kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan tergantung di atas rak dalam sebuah kotak berwarna pink yang indah.

Anisa sangat ingin memilikinya. Tapi, dia tahu, Ibunya akan berkeberatan. Sebelumnya, dia telah berjanji untuk tidak meminta apapun selain yang sudah disetujui. Dengan ibunya, Nisa telah setuju hanya akan membeli kaos kaki. Namun karena kalung itu sangat indah, ia memberanikan diri bertanya.

“Ibu”, sapanya dengan ragu, bolehkah Nisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi!” Ibunya segera mengambil kotak kalung dari tangannya. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Ditatapnya mata Anisa yang penuh harap. “Baiklah, Nisa boleh memiliki Kalung ini”, kata ibunya. Tapi kembalikan kaos kaki yang engkau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabungan Nisa untuk minggu depan. Setuju?” Anisa mengangguk lega. “Terimakasih, Bu!”, ucapnya sambil segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur, kecuali ketika sedang mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi menghijau dan gatal.

Singkat cerita, pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, ayahnya bertanya apakah dia menyanyagi ayahnya. “Tentu dong. Ayah pasti tahu kalau Nisa sayang Ayah!”, jawabnya. “Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu”. “Yah, jangan dong Ayah!”. Ayah boleh ambil “Si Ratu” boneka kuda dari nenek! Itu kesayanganku juga”. “Ya sudahlah sayang, ngga apa-apa!”.

Malam berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, apakah Nisa menyanyangi ayahnya. “Ayah!, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?". Jawabnya lagi. “Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu”. “Jangan Ayah, tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini”, seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.

Di suatu malam, ketika ayahnya masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Rupanya ia sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya memeluk lututnya. Butir-butir air matanya jatuh membasahi wajahnya. “Ada apa Anisa”. “Anisa kenapa?” Tanpa berucap sepatah pun, Anisa menengadahkan wajahnya sambil sesegukan menatap ayahnya dalam-dalam. Perlahan-lahan, dia lalu membuka genggamannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya. “Kalau Ayah mau, ambillah kalung Anisa”.

Ayahnya tersenyum mengerti. Diambilnya kalung itu dari tangan mungilnya. Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang lain, ayahnya mengeluarkan sebuah kalung mutiara putih, persis sama cantiknya dengan kalung yang dimilikinya. “Ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau apalagi gatal”. Ayah mengganti kalung Anisa yang palsu dengan memberikan kalung mutiara asli.

Cerita di atas dikirimkan oleh seorang teman Facebook ke catatan saya. Saya begitu tersentuh. Cerita ini mengajarkan banyak hal kepada kita. Seperti dalam cerita itu, di hapadan Tuhan kita hanyalah bocah mungil yang mengaku beriman dan cinta kepada Tuhan. Tapi keimanan dan kecintaan kita tidak melibatkan penyerahan diri seluruhnya.
Apakah engkau mengira akan dibiarkan
begitu saja mengatakan, "Aku beriman (mencintai)"
tanpa ada ujian?
Sebagai ujian, hatimu akan digoncangkan
dengan banyak gangguan dan menyakitkan
jika kamu bersabar dan bertakwa
itulah yang paling utama. (Quran, 29:2, 33;11 dan 3:186).
Kita sadar bahwa Tuhan Maha Pengasih dan Maha Pemberi Pertolongan. Namun, kita segera menolak kasih dan pertolongan-Nya ketika Tuhan bermaksud menjauhkan kita dari bencana dengan mengambil harta benda yang kita cintai.

Tuhan tidak hendak menguji kamu, karena Dia Mahatahu. Dia juga tidak bermaksud memiliki harta yang kau punya, karena Dia Maha Kaya. Tapi, Dia hendak menunjukkan kasih sayang-Nya dan memilihkan apa yang terbaik buat kamu. Seperti seorang ayah yang penuh kasih, Tuhan hendak membahagiakan kamu dengan karunia lain yang mendatangkan kemaslahatan yang jauh lebih besar.

Percayalah, Tuhan tidak saja ingin menepis kecintaan kamu kepada benda-benda, dia juga ingin mengikis syak wasangka yang bersemayam dalam dadamu. Tuhan ingin kau tahu, bahwa Dia-lah sebaik-baiknya pemberi karunia bukan yang lain. Maka, biarkanlah Tuhan memilihkan untukmu yang terbaik. Janganlah kecintaan kamu kepada benda-benda mati itu mengalahkan dan mengikis cintamu kepada Tuhan.

“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa”, Alquran 17:83.

========================================
Ucapan Terimakasih :

Rasa syukur kepada Allah swt yang runtunan karunia-Nya melemahkanku untuk benar-benar dapat bersyukur.

Salawat dan salam kepada Muhammad saw manusia pilihan dan ahl-baytnya yang suci bersih serta sahabatnya yang baik-baik.

Terimakasih saya sebanyak tetes hujan yang jatuh membasahi bumi kepada Ummie Chalwa Al-I’tirof yang telah mengirimkan kisah di atas.

Terimakasih saya sebanyak btiran pasir yang terbentang di bumi pertiwi kepada Ayah-Bunda yang melalui rahim dan sulbinya saya meng-ada.

Terimakasih saya sebanyak hembusan angin yang bertiup kepada guru-guru saya yang mengajarkan banyak hal.

Terimakasih saya sebanyak debu yang bertebaran kepada kekasihku yang tercinta baik yang mencintaiku maupun yang tidak mencintaiku.

0 comments:

Post a Comment