Oase Pengetahuan untuk menghilangkan dahaga spiritual para pencari "Kebenaran".

Imam Ali dan Seorang Nasrani

12:02 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Seorang Nasrani datang menemui kaum muslimin. Ia meminta penjelasan kepada kaum muslimin tentang kebenaran kenabian Muhammad Saaw. Beberapa orang mencoba memberi jawaban tapi tidak ada satu pun jawaban yang memuaskannya. Dihadapan kaum muslimin, Nasrani itu berkata, "Kalian orang muslim, beriman tanpa kebenaran!" Orang-orang yang hadir berdesakan ingin membunuhnya. Tapi Ibn Abbas melarang mereka. "Janganlah kalian membunuh orang yang mencari kebenaran", teriak Ibn Abbas.

Singkat cerita, sampailah Nasrani itu dihadapan Imam Ali bin Abi Thalib kw. Kepada Imam ia berkata, "Sebelum aku mengajukan pertanyaan, pertama, aku ingin engkau berjanji bahwa darah dan kehormatanku dilindungi. "Aku berjanji", kata Imam. Kedua, apakah keunggulanmu dibandingkan dengan Nabiyullah Isa as sehingga aku layak mendengarkanmu?"

Imam berkata, "Saat nabi Isa as dikandung, Maryam tidak pernah meninggalkan mihrabnya. Namun, ketika Maryam hendak melahirkan Isa as, Allah memerintahkannya untuk keluar dari mihrabnya. Ibuku tidak pernah meninggalkan mihrabnya saat mengandungku. Ketika hendak melahirkanku, Allah memerintahkan ibuku masuk ke dalam rumah-Nya.

Nasrani itu mencium tangan imam sambil berkata, "Aku menerima kebenaran tentang kenabian Muhammad dan engkau adalah walinya".

Imam Ali dan Seorang Yahudi

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Suatu hari, Imam Ali diundang seorang Yahudi untuk mengahadiri acara jamuan di rumahnya. Kepada Imam Ali, Yahudi itu menyuguhkan anggur. Imam memakannya. Lalu Yahudi itu memberi segelas khamr kepada Imam. "Maaf, khamr diharamkan bagi kami kaum muslimin", kata Imam.

"Aneh sekali kalian ini wahai muslim", kata Yahudi itu, "kalian menghalalkan anggur tapi mengharamkan khamr padahal khamr berasal dari anggur".

"Apakah kamu memiliki istri?", tanya Imam Ali. "Punya", jawab Yahudi itu. "Datangkan ia kemari". Yahudi itu pun memanggil istrinya. "Apakah kamu memiliki seorang putri?", tanya Imam lagi. "Punya", jawab yahudi itu. "Datangkan dia ke sini". Yahudi itu pun memanggil putrinya.

Setelah istri dan putrinya hadir, Imam kemudian berkata, "Bukankah Allah menghalalkan kepadamu istrimu dan mengharamkan putrimu untukmu padahal putrimu berasal dari istrimu?".

Sontak, Yahudi berkata lantang, "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad rasulullah sedangkan engkau waliyullah".

Duka Karbala : Menangislah Karena Allah

12:30 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Seaat ingin melaksanakan perintah Allah Swt untuk menyembelih anaknya, Ibrahim beraudiensi dengan Allah Swt.

Allah Swt bertanya kepada Ibrahim, "Siapa diantara makhlukKu yg paling engkau cintai ya Ibrahim? Nabi Ibrahim menjawab, "Al-Mustafa, Muhammad ibn Abdillah, kekasihMu duhai Tuhanku".

Allah bertanya lagi, " Putra siapa yg engkau lebih cintai ya Ibrahim, putramu (Ismail as) atau putra Muhammad (Husein sa)? Ibrahim as menjawab, " Putra Muhammad lebih aku cintai".
"Menapa demikian?", tanya Allah lagi. "Karena al-Husein membuat Muhammad, kekasihMu MENANGIS setiap kali menatapnya duhai Tuhanku", jawab Ibrahim as.

Kemudian Allah Swt "menggantikan" pengorbanan putra Ibrahim yaitu Ismail dengan pengorbanan al-Husein.

Allah Swt berfirman, "Wa fadainaahu bi dzibhin 'azim; Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang agung(QS. As-Saffat [37]:107). Saat itu, Ibrahim jatuh tersungkur karena kesedihannya sambil menggumamkan salawat, "Allahuma sholli a'la Muhammad wa ali Muhammad, kama sholaita a'la Ibrohim wa ali Ibrohim. Wa baarik a'la Muhammadin wa ali Muhammad, kama baroktah a'la Ibrahim wa ali Ibrahim".

Maka, menangislah karena hal-hal yangg membuat Muhammad menangis. Menangislah karena hal-hal yang membuat Ibrahim menangis. Menangislah karena kecintaan kepada Allah Swt.


Tanyakan Kepada Tuhan

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Pada suatu hari, nabi Musa as bermaksud menemui Tuhan di bukit Sinai. Mengetahui maksudnya, seorang ahli ibadah mendatanginya dengan satu permohonan. "Wahai Kalimullah, seumur hidup saya telah berupaya untuk menjadi orang saleh. Saya dirikan shalat, menjalankan puasa, naik haji, dan melakukan apa yang agama wajibkan untuk seorang muslim. Untuk itu, saya banyak menanggung derita hidup. Namun semua derita itu tiada berarti bagiku. Saya hanya ingin tahu apa yang Tuhan persiapkan untukku kelak. Mohon tanyakan kepada-Nya!" "Baik", kata nabi Musa.

Ketika melanjutkan perjalanan, Musa berjumpa dengan seorang pemabuk di pinggir jalan. "Anda hendak kemana?", tanya pemabuk itu. "Hendak menemui Tuhan", jawab Musa. "Tolong tanyakan kepada Tuhan nasibku. Aku ini seorang peminum, pendosa. Aku tidak pernah shalat, puasa, atau mengerjakan amal saleh lainnya. Apakah kiranya yang Tuhan persiapkan bagiku nanti". Musa menyanggupi untuk menyampaikan pesannya kepada Tuhan.

Saat kembali dari Bukit Sinai, Musa menyampaikan jawaban Tuhan kepada ahli ibadah, "Bagimu pahala yang besar dan segala keindahan". Si Saleh itu berkata, "Saya sudah menduganya". Kepada si pemabuk, Musa berkata, "Seburuk-buruk tempat telah dipersiapkan Tuhan untukmu". Mendengar itu, si pemabuk bangkit, lalu menari-nari penuh bahagia. Musa keheranan, mengapa dia berbahagia dijanjikan tempat yang paling jelek.

"Alhamdulliah. Aku tidak perduli apa pun yang Tuhan persiapkan untukku. Aku bahagia karena Dia masih ingat kepadaku padahal aku pendosa yang hina dina. Aku mengira tak seorang pun mengingatku, baik di bumi maupun di langit", katanya dengan kebahagiaan yang tulus.

Akhirnya, di Lauh al-Mahfuz, nasib keduanya berubah. Mereka bertukar tempat. Si saleh di neraka dan si durhaka di surga.

Musa takjub. Ia bertanya kepada Tuhan. Dan Tuhan menjawab, "Si saleh tidak layak memperoleh anugerahKu. Ia mengira dapat membeli anugerahKu dengan amal salehnya. Si pendosa membuatKu senang, karena ia ridho dengan pemberianku kepadanya. Kesenangannya atas pemberianKu membuatKu senang kepadanya.

Murka Jibril

12:26 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Ruh kudus diselimuti angkara murka
kala Nabi suci dihinakan penduduk Tha’if
padahal Tuhan tak bekalkan amarah padanya

bagaimana mungkin hamba menahan diri
melihat si jahil nistakan Kekasih Tuhan
meski Rasul tak restui tindakan Jibril
tapi cintanya membuat Rasul tersenyum bahagia

maka engkau yang menisbahkan diri cinta Nabi
jangan pandang amarah sebagai laku bathil
karena murka adalan ekspresi cinta
yang akan mengundang tawa Nabi