Oase Pengetahuan untuk menghilangkan dahaga spiritual para pencari "Kebenaran".

Dzunnun dan Geng Perahu

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Alkisah, suatu hari, Dzunnun dan para santrinya tengah berlayar di sungai Nil. Ditengah perjalanan, mereka berjumpa dengan "geng perahu" yang asyik memetik gitar, berhura-hura, berteriak-tetiak, berjoget-joget, menyetir ugal-ugalan yang meresahkan serta membahayakan pengguna sungai Nil yang lain.

Para santri merasa jengkel dan karena itu meminta kesediaan Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya anak-anak muda "geng perahu" itu ditennggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil. Dzunnun mengangkat kedua tangannya dan berdoa, "Ya Allah, sebagaimana telah Engkau beri orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka kehidupan yang menyenangkan di akhirat kelak".

Santri-santrinya tercengang. Bukan doa seperti itu yang mereka harapkan dari Dzunnun. Tapi aneh bin ajaib, Dzunnun malah memohonkan kehidupan yang baik bagi anak-anak "geng perahu" itu.

Saat perahu anak-anak "geng perahu" itu mendekati perahu Dzunnun dan santrinya, mereka takjub dan terpanah melihat Dzunnun. Mereka menyesal dan memohon maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka pada kesucian. Mereka meremukkan alat-alat musik mereka dan bertobat kepada Tuhan.

"Kehidupan yang menyenangkan di akhirat kelak adalah bertobat di dunia ini", kata Dzunnun kepada santri-santrinya. Dzunnun melanjukan, "Dengan cara seperti ini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun".

Si Gila dan Si Waras

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Seorang waras bertanya pada Si gila, "Siapa yang lebih kau cintai?"

Orang gila itu tertawa lalu berkata, "Kekasihku". "Lalu siapa kekasihmu?", tanya si waras. Si gila menjawab, "Aku tak punya kekasih".

Si waras tertawa kemudian kembali bertanya pada Si gila, "Apa yang bisa kau lakukan demi kekasihmu?".

Si gila menjawab, "Aku tidak akan seperti kalian orang waras. Aku tak akan pernah mengkhianatinya, tak akan menjauhinya, janjiku tak akan kuingkari, tak akan mendustainya, mengasihinya dan mencintainya selalu, siap berkorban untuknya dan tak akan membuatnya sepi".

Si waras kembali bertanya, "Bagaimana jika ia meninggalkanmu, tidak mencintaimu, dan mengingkari janjinya?".

Tiba-tiba air matanya mengalir menyusuri ruas-ruas kulit dan membasahi pipinya. Dia lalu berkata, "Jika tidak demikian, aku tidak akan "gila".

Muazin Yang Bersuara Jelek

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Dalam Kitabnya 'Matsnawi-e Maknawi', Rumi bercerita : Dahulu, di sebuah negeri antah berantah, ada seorang muazin yang bersuara jelek. Setiap hari ia memanggil orang untuk shalat. Orang-orang memberi nasehat kepadanya, "Berhentilah kamu memanggil orang untuk shalat. Negeri tempat di mana kita hidup, tinggal mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin, suara kamu akan menciptakan kerusuhan dan melahirkan pertengkaran antara kita dan orang-orang non Muslim". Tetapi muazin itu menolak nasihat banyak orang. Ia justru bahagia dengan mengumandangkan azannya yang buruk itu. Baginya, melantukan azan untuk memanggil orang shalat di negeri di mana orang tak pernah shalat adalah sebuah kehormatan.

Suatu pagi, seorang pendeta dengan sikap yang bersahabat datang menemui jamaah kaum Muslimin. Di tangannya ada jubah, lilin dan manisan. Berulang-ulang ia bertanya, "Beritahu aku di mana muazin itu? Tunjukkan padaku siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu membuat hatiku bahagia". Seorang Muslim bertanya, "Kebahagiaan macam apa yang kau peroleh dari suara jelek muazin itu?"

Pendeta itu kemudian bercerita, "Suara muazin itu masuk menembus sela-sela dinding gereja tempat aku dan keluargaku tinggal. Anak perempuanku yang rupawan dan berbudi pekerti ingin sekali menikah dengan seorang Mukmin sejati. Aku menolak keinginannya itu. Akhirnya ia pun jatuh sakit. Kecintaannya kepada Islam sudah tumbuh mengakar dalam hatinya. Memikirkan anak gadisku itu membuatku tersiksa, gelisah, dan menderita kerisauan terus-menerus. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Dan aku berpikir tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya". Sampai suatu ketika, mendengar suara azan itu. Ia bertanya, "Suara apa yang tidak enak ini? Suara ini menusuk telingaku. Belum pernah dalam hidupku, aku mendengar suara seburuk ini di tempat-tempat ibadat atau gereja". Saudara perempuannya menjawab, "Suara itu namanya azan, panggilan betibadat untuk orang-orang Islam. Bagi seorang yang beriman, azan adalah ucapan utama. Dia tidak percaya. Dia bertanya padaku, "Ayah, betulkah suara yang jelek itu adalah suara azan untuk memanggil orang sembahyang?" Aku meyakinkannya bahwa itu adalah suara azan.

Ketika dia sudah yakin, wajahnya berubah pucat pasi. Kecintaannya pada Islam sirna dan kebencian justru tumbuh dalam hatinya. Meyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari cekraman kecemasan dan penderitaan. Tadi malam aku tidur dengan nyenyak. Dan kenikmatan serta kesenangan yang kuperoleh berkat suara azan yang dikumandangkan muazin itu".

Pendeta itu melanjutkan, "Bawalah aku kepada muazin itu. Aku ingin memberikan semua hadiah ini". Ketika pendeta itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "Mohon terimalah hadiah ini. Sungguh kau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah kau perbuat, kini aku terbebas dari derita yang selama ini menghimpitku. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan kusumpal mulutmu dengan hadiah".

Rumi lalu berkata, "Keimananmu wahai Muslim, hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti ajakan muazin itu, yang dimaksudkan untuk membawa orang pada jalan kebenaran, malah mencegah orang dari jalan yang lurus. Hatiku dipenuhi penyesalan, tapi iman dan ketulusan Bayazid al-Bustami melenyapkannya".

Kesalehan muazin yang bersuara jelek hanyalah pulasan: melatakkan nilai pada aspek-aspek lahiriah, menempatkan kemuliaan pada pelaksanaan secara harfiah teks-teks syariat. Seperti muazin itu, ia mengira melaksanakan perintah agama, padahal ia menuang racun di lautan iman. Ia mengambil bungkusnya dan mencampakkan hakikatnya. Kesetiaannya pada teks-teks syariat telah mengabaikannya dari ajaran agama sebenarnya.

Namun, kesalehan Bayazid al-Bustami adalah keimanan yang sejati. Kesalehan itu mengelokkan kemasan iman dan meneguhkan hakikat agama. Seperti kata Rumi :

Setetes saja iman Bayazid masuk ke dalam samudra
Seluruh samudra tenggelam dalam cahaya iman
Jika sepercik api dari keimanan Bayazid jatuh di tengah hutan
Seluruh hutan akan sirna karena kobaran api iman

Pada diri Bayazid azan dikumandangkan agar orang menerima cahaya iman tapi muazin yang bersuara jelek mengubahnya jadi bencana.

Sumber : Rumi. Matsnawi-e Maknawi (lihat juga Jalaluddin Rakhmat, The Road to Allah h. 27-31)

Kapan Datangnya Hari Kiamat?

12:17 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

KETIKA Rasulullah Sawa hendak mendirikan shalat ashar, seorang Arab Badui tergopoh-gopoh datang menemui Nabi al-Mustafa. Ia merasuk masuk ketengah-tengah jamaah shalat. Di hadapa Nabi ia berkata, "Ya Rasulullah, kapan datangnya hari kiamat?" Rasulullah tidak menjawab. Nabi segera mendirikan shalat.

Selesai shalat, nabi memandangi jamaah lalu berkata, "Siapakah yang tadi bertanya tentang kedatangan hari kiamat?" "Saya, ya Rasulullah", jawab orang Badui itu. "Apa yang kamu telah persiapkan untuk kedatangan hari kiamat?", tanya Rasulullah. "Demi Allah, saya ini orang yang memiliki sedikit bekal. Saya jarang puasa, malas shalat, dan tidak pernah bersedekah. Tetapi saya mencintai Allah dan RasulNya". Rasul menjawab singkat, "Anta ma'a man ahbabta"; kamu bersama dengan orang-orang yang kamu cintai.

Al-Hallaj : Qurban Pertama Dalam Irfan

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Alkisah, saat melewati sebuah gudang, jarinya menunjuk gundukan kapas yang teronggok. Ajaib, biji-biji kapas pun terpisah dari seratnya. Tidak hanya itu, ia juga mampu mengetahui pikiran orang dan menjawab berbagai pertanyaan sebelum pertanyaan itu disampaikan kepadanya. Karena peristiwa itu, ia dijuluki "Hallaj al-Asrar", Penggaru Segenap Kalbu.

Konon, tahun 913 M, ia mengalami titik balik spiritual. Setelah menyaksikan Sang Kebenaran, Hallaj, dalam mabuk mentahbiskan dirinya sebagai Sang Kebenaran. Dengan lidah ekstase, ia berujar, "Ana al-Haqq"-Akulah Sang Kebenaran. Atas pernyataannya itu, pemerintah yang berkuasa menjatuhkan hukuman mati padanya.

Sebelum hari eksekusi ditentukan, ia dijebloskan ke dalam penjara. Pada malam pertama dia dipenjara, al-Hallaj menghilang. Selnya kosong: tak berpenghuni sementara gembok pintu selnya masih tetap utuh. Di malam kedua, al-Hallaj beserta penjara yang ditempatinya pun menghilang. Dan dimalam ketiga, semuanya kembali seperti sedia kala.

Para sipir penjara keheranan. "Pada malam pertama, di mana engkau berada?", tanya para sipir. "Malam pertama, aku ada di hadirat Allah Swt karena itu aku menghilang. Malam kedua, Allah Swt hadir di sini, sehingga aku dan penjara lenyap. Pada malam berikutnya, aku diperkenankan untuk kembali", jawab al-Hallaj.

Setelah itu, kepada tiga ratus narapidana yang ditahan bersamanya dalam keadaan terbelenggu, ia berkata, "Aku akan membebaskan kalian semua". Para tawanan itu bingung. "Bagaimana mungkin engkau membebaskan kami jika kau sendiri terbelenggu? ", kata mereka. "Kita semua dalam belenggu Allah", jawabnya. Ia lalu menunjuk belengu yang melilit mereka dengan jarinya dan semua belenggu itu pun terlepas. Namun, para tawanan itu masih belum bisa bebas karena semua pintu terkunci. Hallaj menunjukkan jarinya pada tembok, dan tembok itu pun hancur.

"Engkau tidak ikut bersama kami?" tanya mereka. "Tidak. Ada rahasia yang hanya bisa diungkap ditiang gantungan", jawab Hallaj.

Hari eksekusi pun tiba. Al-Hallaj diseret ke tiang gantungan. Setan datang merayunya dengan berkata, "Engkau bilang 'aku' dan aku juga bilang 'aku'. Tapi, mengapa engkau memperoleh keabadian sedang aku mendapat kutukan?" Al-Hallaj menjawab, "Kamu bilang aku dan melihat dirimu sendiri, sementara aku yang aku katakan menjauhkanku dari ke-aku-anku. Aku beroleh rahmat dan kau mendapat kutukan. Melihat diri sendiri tidaklah benar, sedangkan memisahkan diri dari keakuan adalah amalan yang paling baik".

Akhirnya, Algojo memotong kedua tangannya. Al-Hallaj tersenyum dan berkata, "Mudah memotong tangan seseorang yang terbelenggu. Tetapi diperlukan jiwa kesatria untuk memotong tangan segenap sifat yang menjauhkan seseorang dari Allah: diperlukan usaha keras untuk memotong tangan yang terikat pada kecintaan dunia dan segala hal yang menjauhkan diri dari Tuhan". Algojo lalu memotong kedua kakinya. Al-Hallaj berkata, "Aku berjalan di muka bumi dengan dua kaki ini. Aku masih punya dua kaki untuk berjalan di akhirat. Potonglah jika kau mampu melakukannya".

Setelah itu, al-Hallaj mengusap wajahnya dengan darah dari kedua tangannya yang buntung. Orang-orang bertanya, "Mengapa kau usap wajahmu dengan darah?" Hallaj menjawab "Wajahku memucat karena aku telah kehilangan banyak darah. Kuusapkan darah ini di wajahku, agar tidak ada orang yang menyangka bahwa aku takut mati". "Lalu mengapa kau basahi lenganmu dengan darah?", tanya orang-orang itu lagi. Ia menjawab, "Aku sedang berwudu. Dalam shalat Cinta, hanya ada dua rakaat dan darah adalah air wudhunya".

Algojo mencungkil mata al-Hallaj. Orang-orang pun berteriak. Sebagian menangis, sebagian lagi membullynya: memaki dan mengutuknya. Setelah itu, telinga dan hidungnya dipotong.

Ketika lidahnya hendak dipotong, al-Hallaj meminta sedikit waktu dan menggumamkan doa, "Ya Allah, jangan Engkau usir orang-orang ini dari haribaanMu atas apa yang mereka lakukan. Mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Mereka memenggal kepalaku juga karena keagunganMu. Segala puji bagi Allah, kekasih Hati para pencari Kebenaran".

Setiap kali bagian tubuhnya dipotong, terdengar suara gaib yang berseru, "Jangan takut putra Manshur".

Sisa tubuhnya dibiarkan di atas tiang gantungan. Keesokan harinya, algojo memenggal kepalanya. Saat kepalanya dipenggal, al-Hallaj tersenyum. Orang-orang berteriak histeris, tapi al-Hallaj merasa bahagia. Setiap potongan tubuhnya berseru "Akulah Kebenaran". Sedangkan tetesan darahnya yang jatuh di atas tanah membentuk nama Allah.

Mengenang hari itu, seorang guru sufi, Syaikh Saffar, berkata "Aku lebih percaya pada akidah Algojo ketimbang akidah al-Hallaj. Pastilah Algojo itu memiliki akidah yang kuat dalam menjalankan hukum Ilahi. Sebab seruan suara gaib bisa didengar begitu jelas, tetapi tangannya tetap mantap memutilasi putra Manshur itu".

Dalam "Tazkirah al-Awliya", 'Atthar berkata, "Saya heran, kita bisa menerima semak-belukar yang berujar 'Aku adalah Allah', saat Musa as beraudiensi dengan Allah dibukit Tursina, tetapi menolak ucapan al-Hallaj, 'Akulah Sang Kebenaran', padahal itu kata-kata Allah sendiri".

Rumi dalam "Matsnawi", mengatakan, "Kata-kata 'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara 'Akulah Tuhan' dari mulut Fir'aun adalah kemusyrikan yang nyata".