Oase Pengetahuan untuk menghilangkan dahaga spiritual para pencari "Kebenaran".

Imam Ali dan Seorang Nasrani

12:02 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Seorang Nasrani datang menemui kaum muslimin. Ia meminta penjelasan kepada kaum muslimin tentang kebenaran kenabian Muhammad Saaw. Beberapa orang mencoba memberi jawaban tapi tidak ada satu pun jawaban yang memuaskannya. Dihadapan kaum muslimin, Nasrani itu berkata, "Kalian orang muslim, beriman tanpa kebenaran!" Orang-orang yang hadir berdesakan ingin membunuhnya. Tapi Ibn Abbas melarang mereka. "Janganlah kalian membunuh orang yang mencari kebenaran", teriak Ibn Abbas.

Singkat cerita, sampailah Nasrani itu dihadapan Imam Ali bin Abi Thalib kw. Kepada Imam ia berkata, "Sebelum aku mengajukan pertanyaan, pertama, aku ingin engkau berjanji bahwa darah dan kehormatanku dilindungi. "Aku berjanji", kata Imam. Kedua, apakah keunggulanmu dibandingkan dengan Nabiyullah Isa as sehingga aku layak mendengarkanmu?"

Imam berkata, "Saat nabi Isa as dikandung, Maryam tidak pernah meninggalkan mihrabnya. Namun, ketika Maryam hendak melahirkan Isa as, Allah memerintahkannya untuk keluar dari mihrabnya. Ibuku tidak pernah meninggalkan mihrabnya saat mengandungku. Ketika hendak melahirkanku, Allah memerintahkan ibuku masuk ke dalam rumah-Nya.

Nasrani itu mencium tangan imam sambil berkata, "Aku menerima kebenaran tentang kenabian Muhammad dan engkau adalah walinya".

Imam Ali dan Seorang Yahudi

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Suatu hari, Imam Ali diundang seorang Yahudi untuk mengahadiri acara jamuan di rumahnya. Kepada Imam Ali, Yahudi itu menyuguhkan anggur. Imam memakannya. Lalu Yahudi itu memberi segelas khamr kepada Imam. "Maaf, khamr diharamkan bagi kami kaum muslimin", kata Imam.

"Aneh sekali kalian ini wahai muslim", kata Yahudi itu, "kalian menghalalkan anggur tapi mengharamkan khamr padahal khamr berasal dari anggur".

"Apakah kamu memiliki istri?", tanya Imam Ali. "Punya", jawab Yahudi itu. "Datangkan ia kemari". Yahudi itu pun memanggil istrinya. "Apakah kamu memiliki seorang putri?", tanya Imam lagi. "Punya", jawab yahudi itu. "Datangkan dia ke sini". Yahudi itu pun memanggil putrinya.

Setelah istri dan putrinya hadir, Imam kemudian berkata, "Bukankah Allah menghalalkan kepadamu istrimu dan mengharamkan putrimu untukmu padahal putrimu berasal dari istrimu?".

Sontak, Yahudi berkata lantang, "Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad rasulullah sedangkan engkau waliyullah".

Duka Karbala : Menangislah Karena Allah

12:30 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Seaat ingin melaksanakan perintah Allah Swt untuk menyembelih anaknya, Ibrahim beraudiensi dengan Allah Swt.

Allah Swt bertanya kepada Ibrahim, "Siapa diantara makhlukKu yg paling engkau cintai ya Ibrahim? Nabi Ibrahim menjawab, "Al-Mustafa, Muhammad ibn Abdillah, kekasihMu duhai Tuhanku".

Allah bertanya lagi, " Putra siapa yg engkau lebih cintai ya Ibrahim, putramu (Ismail as) atau putra Muhammad (Husein sa)? Ibrahim as menjawab, " Putra Muhammad lebih aku cintai".
"Menapa demikian?", tanya Allah lagi. "Karena al-Husein membuat Muhammad, kekasihMu MENANGIS setiap kali menatapnya duhai Tuhanku", jawab Ibrahim as.

Kemudian Allah Swt "menggantikan" pengorbanan putra Ibrahim yaitu Ismail dengan pengorbanan al-Husein.

Allah Swt berfirman, "Wa fadainaahu bi dzibhin 'azim; Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang agung(QS. As-Saffat [37]:107). Saat itu, Ibrahim jatuh tersungkur karena kesedihannya sambil menggumamkan salawat, "Allahuma sholli a'la Muhammad wa ali Muhammad, kama sholaita a'la Ibrohim wa ali Ibrohim. Wa baarik a'la Muhammadin wa ali Muhammad, kama baroktah a'la Ibrahim wa ali Ibrahim".

Maka, menangislah karena hal-hal yangg membuat Muhammad menangis. Menangislah karena hal-hal yang membuat Ibrahim menangis. Menangislah karena kecintaan kepada Allah Swt.


Tanyakan Kepada Tuhan

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Pada suatu hari, nabi Musa as bermaksud menemui Tuhan di bukit Sinai. Mengetahui maksudnya, seorang ahli ibadah mendatanginya dengan satu permohonan. "Wahai Kalimullah, seumur hidup saya telah berupaya untuk menjadi orang saleh. Saya dirikan shalat, menjalankan puasa, naik haji, dan melakukan apa yang agama wajibkan untuk seorang muslim. Untuk itu, saya banyak menanggung derita hidup. Namun semua derita itu tiada berarti bagiku. Saya hanya ingin tahu apa yang Tuhan persiapkan untukku kelak. Mohon tanyakan kepada-Nya!" "Baik", kata nabi Musa.

Ketika melanjutkan perjalanan, Musa berjumpa dengan seorang pemabuk di pinggir jalan. "Anda hendak kemana?", tanya pemabuk itu. "Hendak menemui Tuhan", jawab Musa. "Tolong tanyakan kepada Tuhan nasibku. Aku ini seorang peminum, pendosa. Aku tidak pernah shalat, puasa, atau mengerjakan amal saleh lainnya. Apakah kiranya yang Tuhan persiapkan bagiku nanti". Musa menyanggupi untuk menyampaikan pesannya kepada Tuhan.

Saat kembali dari Bukit Sinai, Musa menyampaikan jawaban Tuhan kepada ahli ibadah, "Bagimu pahala yang besar dan segala keindahan". Si Saleh itu berkata, "Saya sudah menduganya". Kepada si pemabuk, Musa berkata, "Seburuk-buruk tempat telah dipersiapkan Tuhan untukmu". Mendengar itu, si pemabuk bangkit, lalu menari-nari penuh bahagia. Musa keheranan, mengapa dia berbahagia dijanjikan tempat yang paling jelek.

"Alhamdulliah. Aku tidak perduli apa pun yang Tuhan persiapkan untukku. Aku bahagia karena Dia masih ingat kepadaku padahal aku pendosa yang hina dina. Aku mengira tak seorang pun mengingatku, baik di bumi maupun di langit", katanya dengan kebahagiaan yang tulus.

Akhirnya, di Lauh al-Mahfuz, nasib keduanya berubah. Mereka bertukar tempat. Si saleh di neraka dan si durhaka di surga.

Musa takjub. Ia bertanya kepada Tuhan. Dan Tuhan menjawab, "Si saleh tidak layak memperoleh anugerahKu. Ia mengira dapat membeli anugerahKu dengan amal salehnya. Si pendosa membuatKu senang, karena ia ridho dengan pemberianku kepadanya. Kesenangannya atas pemberianKu membuatKu senang kepadanya.

Murka Jibril

12:26 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Ruh kudus diselimuti angkara murka
kala Nabi suci dihinakan penduduk Tha’if
padahal Tuhan tak bekalkan amarah padanya

bagaimana mungkin hamba menahan diri
melihat si jahil nistakan Kekasih Tuhan
meski Rasul tak restui tindakan Jibril
tapi cintanya membuat Rasul tersenyum bahagia

maka engkau yang menisbahkan diri cinta Nabi
jangan pandang amarah sebagai laku bathil
karena murka adalan ekspresi cinta
yang akan mengundang tawa Nabi


Dzunnun dan Geng Perahu

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Alkisah, suatu hari, Dzunnun dan para santrinya tengah berlayar di sungai Nil. Ditengah perjalanan, mereka berjumpa dengan "geng perahu" yang asyik memetik gitar, berhura-hura, berteriak-tetiak, berjoget-joget, menyetir ugal-ugalan yang meresahkan serta membahayakan pengguna sungai Nil yang lain.

Para santri merasa jengkel dan karena itu meminta kesediaan Dzunnun untuk berdoa kepada Allah supaya anak-anak muda "geng perahu" itu ditennggelamkan Tuhan jauh ke dasar sungai Nil. Dzunnun mengangkat kedua tangannya dan berdoa, "Ya Allah, sebagaimana telah Engkau beri orang-orang itu kehidupan yang menyenangkan di dunia ini, beri juga mereka kehidupan yang menyenangkan di akhirat kelak".

Santri-santrinya tercengang. Bukan doa seperti itu yang mereka harapkan dari Dzunnun. Tapi aneh bin ajaib, Dzunnun malah memohonkan kehidupan yang baik bagi anak-anak "geng perahu" itu.

Saat perahu anak-anak "geng perahu" itu mendekati perahu Dzunnun dan santrinya, mereka takjub dan terpanah melihat Dzunnun. Mereka menyesal dan memohon maaf. Entah bagaimana, memandang wajah Dzunnun membawa mereka pada kesucian. Mereka meremukkan alat-alat musik mereka dan bertobat kepada Tuhan.

"Kehidupan yang menyenangkan di akhirat kelak adalah bertobat di dunia ini", kata Dzunnun kepada santri-santrinya. Dzunnun melanjukan, "Dengan cara seperti ini, kalian dan mereka puas tanpa merugikan siapa pun".

Si Gila dan Si Waras

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Seorang waras bertanya pada Si gila, "Siapa yang lebih kau cintai?"

Orang gila itu tertawa lalu berkata, "Kekasihku". "Lalu siapa kekasihmu?", tanya si waras. Si gila menjawab, "Aku tak punya kekasih".

Si waras tertawa kemudian kembali bertanya pada Si gila, "Apa yang bisa kau lakukan demi kekasihmu?".

Si gila menjawab, "Aku tidak akan seperti kalian orang waras. Aku tak akan pernah mengkhianatinya, tak akan menjauhinya, janjiku tak akan kuingkari, tak akan mendustainya, mengasihinya dan mencintainya selalu, siap berkorban untuknya dan tak akan membuatnya sepi".

Si waras kembali bertanya, "Bagaimana jika ia meninggalkanmu, tidak mencintaimu, dan mengingkari janjinya?".

Tiba-tiba air matanya mengalir menyusuri ruas-ruas kulit dan membasahi pipinya. Dia lalu berkata, "Jika tidak demikian, aku tidak akan "gila".

Muazin Yang Bersuara Jelek

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Dalam Kitabnya 'Matsnawi-e Maknawi', Rumi bercerita : Dahulu, di sebuah negeri antah berantah, ada seorang muazin yang bersuara jelek. Setiap hari ia memanggil orang untuk shalat. Orang-orang memberi nasehat kepadanya, "Berhentilah kamu memanggil orang untuk shalat. Negeri tempat di mana kita hidup, tinggal mayoritas bukan beragama Islam. Bukan tidak mungkin, suara kamu akan menciptakan kerusuhan dan melahirkan pertengkaran antara kita dan orang-orang non Muslim". Tetapi muazin itu menolak nasihat banyak orang. Ia justru bahagia dengan mengumandangkan azannya yang buruk itu. Baginya, melantukan azan untuk memanggil orang shalat di negeri di mana orang tak pernah shalat adalah sebuah kehormatan.

Suatu pagi, seorang pendeta dengan sikap yang bersahabat datang menemui jamaah kaum Muslimin. Di tangannya ada jubah, lilin dan manisan. Berulang-ulang ia bertanya, "Beritahu aku di mana muazin itu? Tunjukkan padaku siapa dia, muazin yang suara dan teriakannya selalu membuat hatiku bahagia". Seorang Muslim bertanya, "Kebahagiaan macam apa yang kau peroleh dari suara jelek muazin itu?"

Pendeta itu kemudian bercerita, "Suara muazin itu masuk menembus sela-sela dinding gereja tempat aku dan keluargaku tinggal. Anak perempuanku yang rupawan dan berbudi pekerti ingin sekali menikah dengan seorang Mukmin sejati. Aku menolak keinginannya itu. Akhirnya ia pun jatuh sakit. Kecintaannya kepada Islam sudah tumbuh mengakar dalam hatinya. Memikirkan anak gadisku itu membuatku tersiksa, gelisah, dan menderita kerisauan terus-menerus. Aku khawatir dia akan masuk Islam. Dan aku berpikir tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya". Sampai suatu ketika, mendengar suara azan itu. Ia bertanya, "Suara apa yang tidak enak ini? Suara ini menusuk telingaku. Belum pernah dalam hidupku, aku mendengar suara seburuk ini di tempat-tempat ibadat atau gereja". Saudara perempuannya menjawab, "Suara itu namanya azan, panggilan betibadat untuk orang-orang Islam. Bagi seorang yang beriman, azan adalah ucapan utama. Dia tidak percaya. Dia bertanya padaku, "Ayah, betulkah suara yang jelek itu adalah suara azan untuk memanggil orang sembahyang?" Aku meyakinkannya bahwa itu adalah suara azan.

Ketika dia sudah yakin, wajahnya berubah pucat pasi. Kecintaannya pada Islam sirna dan kebencian justru tumbuh dalam hatinya. Meyaksikan perubahan itu, aku merasa dilepaskan dari cekraman kecemasan dan penderitaan. Tadi malam aku tidur dengan nyenyak. Dan kenikmatan serta kesenangan yang kuperoleh berkat suara azan yang dikumandangkan muazin itu".

Pendeta itu melanjutkan, "Bawalah aku kepada muazin itu. Aku ingin memberikan semua hadiah ini". Ketika pendeta itu bertemu dengan si muazin, dia berkata, "Mohon terimalah hadiah ini. Sungguh kau telah menjadi pelindung dan juru selamatku. Berkat kebaikan yang telah kau perbuat, kini aku terbebas dari derita yang selama ini menghimpitku. Sekiranya aku memiliki kekayaan dan harta benda yang banyak, akan kusumpal mulutmu dengan hadiah".

Rumi lalu berkata, "Keimananmu wahai Muslim, hanyalah kemunafikan dan kepalsuan. Seperti ajakan muazin itu, yang dimaksudkan untuk membawa orang pada jalan kebenaran, malah mencegah orang dari jalan yang lurus. Hatiku dipenuhi penyesalan, tapi iman dan ketulusan Bayazid al-Bustami melenyapkannya".

Kesalehan muazin yang bersuara jelek hanyalah pulasan: melatakkan nilai pada aspek-aspek lahiriah, menempatkan kemuliaan pada pelaksanaan secara harfiah teks-teks syariat. Seperti muazin itu, ia mengira melaksanakan perintah agama, padahal ia menuang racun di lautan iman. Ia mengambil bungkusnya dan mencampakkan hakikatnya. Kesetiaannya pada teks-teks syariat telah mengabaikannya dari ajaran agama sebenarnya.

Namun, kesalehan Bayazid al-Bustami adalah keimanan yang sejati. Kesalehan itu mengelokkan kemasan iman dan meneguhkan hakikat agama. Seperti kata Rumi :

Setetes saja iman Bayazid masuk ke dalam samudra
Seluruh samudra tenggelam dalam cahaya iman
Jika sepercik api dari keimanan Bayazid jatuh di tengah hutan
Seluruh hutan akan sirna karena kobaran api iman

Pada diri Bayazid azan dikumandangkan agar orang menerima cahaya iman tapi muazin yang bersuara jelek mengubahnya jadi bencana.

Sumber : Rumi. Matsnawi-e Maknawi (lihat juga Jalaluddin Rakhmat, The Road to Allah h. 27-31)

Kapan Datangnya Hari Kiamat?

12:17 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

KETIKA Rasulullah Sawa hendak mendirikan shalat ashar, seorang Arab Badui tergopoh-gopoh datang menemui Nabi al-Mustafa. Ia merasuk masuk ketengah-tengah jamaah shalat. Di hadapa Nabi ia berkata, "Ya Rasulullah, kapan datangnya hari kiamat?" Rasulullah tidak menjawab. Nabi segera mendirikan shalat.

Selesai shalat, nabi memandangi jamaah lalu berkata, "Siapakah yang tadi bertanya tentang kedatangan hari kiamat?" "Saya, ya Rasulullah", jawab orang Badui itu. "Apa yang kamu telah persiapkan untuk kedatangan hari kiamat?", tanya Rasulullah. "Demi Allah, saya ini orang yang memiliki sedikit bekal. Saya jarang puasa, malas shalat, dan tidak pernah bersedekah. Tetapi saya mencintai Allah dan RasulNya". Rasul menjawab singkat, "Anta ma'a man ahbabta"; kamu bersama dengan orang-orang yang kamu cintai.

Al-Hallaj : Qurban Pertama Dalam Irfan

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Alkisah, saat melewati sebuah gudang, jarinya menunjuk gundukan kapas yang teronggok. Ajaib, biji-biji kapas pun terpisah dari seratnya. Tidak hanya itu, ia juga mampu mengetahui pikiran orang dan menjawab berbagai pertanyaan sebelum pertanyaan itu disampaikan kepadanya. Karena peristiwa itu, ia dijuluki "Hallaj al-Asrar", Penggaru Segenap Kalbu.

Konon, tahun 913 M, ia mengalami titik balik spiritual. Setelah menyaksikan Sang Kebenaran, Hallaj, dalam mabuk mentahbiskan dirinya sebagai Sang Kebenaran. Dengan lidah ekstase, ia berujar, "Ana al-Haqq"-Akulah Sang Kebenaran. Atas pernyataannya itu, pemerintah yang berkuasa menjatuhkan hukuman mati padanya.

Sebelum hari eksekusi ditentukan, ia dijebloskan ke dalam penjara. Pada malam pertama dia dipenjara, al-Hallaj menghilang. Selnya kosong: tak berpenghuni sementara gembok pintu selnya masih tetap utuh. Di malam kedua, al-Hallaj beserta penjara yang ditempatinya pun menghilang. Dan dimalam ketiga, semuanya kembali seperti sedia kala.

Para sipir penjara keheranan. "Pada malam pertama, di mana engkau berada?", tanya para sipir. "Malam pertama, aku ada di hadirat Allah Swt karena itu aku menghilang. Malam kedua, Allah Swt hadir di sini, sehingga aku dan penjara lenyap. Pada malam berikutnya, aku diperkenankan untuk kembali", jawab al-Hallaj.

Setelah itu, kepada tiga ratus narapidana yang ditahan bersamanya dalam keadaan terbelenggu, ia berkata, "Aku akan membebaskan kalian semua". Para tawanan itu bingung. "Bagaimana mungkin engkau membebaskan kami jika kau sendiri terbelenggu? ", kata mereka. "Kita semua dalam belenggu Allah", jawabnya. Ia lalu menunjuk belengu yang melilit mereka dengan jarinya dan semua belenggu itu pun terlepas. Namun, para tawanan itu masih belum bisa bebas karena semua pintu terkunci. Hallaj menunjukkan jarinya pada tembok, dan tembok itu pun hancur.

"Engkau tidak ikut bersama kami?" tanya mereka. "Tidak. Ada rahasia yang hanya bisa diungkap ditiang gantungan", jawab Hallaj.

Hari eksekusi pun tiba. Al-Hallaj diseret ke tiang gantungan. Setan datang merayunya dengan berkata, "Engkau bilang 'aku' dan aku juga bilang 'aku'. Tapi, mengapa engkau memperoleh keabadian sedang aku mendapat kutukan?" Al-Hallaj menjawab, "Kamu bilang aku dan melihat dirimu sendiri, sementara aku yang aku katakan menjauhkanku dari ke-aku-anku. Aku beroleh rahmat dan kau mendapat kutukan. Melihat diri sendiri tidaklah benar, sedangkan memisahkan diri dari keakuan adalah amalan yang paling baik".

Akhirnya, Algojo memotong kedua tangannya. Al-Hallaj tersenyum dan berkata, "Mudah memotong tangan seseorang yang terbelenggu. Tetapi diperlukan jiwa kesatria untuk memotong tangan segenap sifat yang menjauhkan seseorang dari Allah: diperlukan usaha keras untuk memotong tangan yang terikat pada kecintaan dunia dan segala hal yang menjauhkan diri dari Tuhan". Algojo lalu memotong kedua kakinya. Al-Hallaj berkata, "Aku berjalan di muka bumi dengan dua kaki ini. Aku masih punya dua kaki untuk berjalan di akhirat. Potonglah jika kau mampu melakukannya".

Setelah itu, al-Hallaj mengusap wajahnya dengan darah dari kedua tangannya yang buntung. Orang-orang bertanya, "Mengapa kau usap wajahmu dengan darah?" Hallaj menjawab "Wajahku memucat karena aku telah kehilangan banyak darah. Kuusapkan darah ini di wajahku, agar tidak ada orang yang menyangka bahwa aku takut mati". "Lalu mengapa kau basahi lenganmu dengan darah?", tanya orang-orang itu lagi. Ia menjawab, "Aku sedang berwudu. Dalam shalat Cinta, hanya ada dua rakaat dan darah adalah air wudhunya".

Algojo mencungkil mata al-Hallaj. Orang-orang pun berteriak. Sebagian menangis, sebagian lagi membullynya: memaki dan mengutuknya. Setelah itu, telinga dan hidungnya dipotong.

Ketika lidahnya hendak dipotong, al-Hallaj meminta sedikit waktu dan menggumamkan doa, "Ya Allah, jangan Engkau usir orang-orang ini dari haribaanMu atas apa yang mereka lakukan. Mereka memotong tanganku karena Engkau semata. Mereka memenggal kepalaku juga karena keagunganMu. Segala puji bagi Allah, kekasih Hati para pencari Kebenaran".

Setiap kali bagian tubuhnya dipotong, terdengar suara gaib yang berseru, "Jangan takut putra Manshur".

Sisa tubuhnya dibiarkan di atas tiang gantungan. Keesokan harinya, algojo memenggal kepalanya. Saat kepalanya dipenggal, al-Hallaj tersenyum. Orang-orang berteriak histeris, tapi al-Hallaj merasa bahagia. Setiap potongan tubuhnya berseru "Akulah Kebenaran". Sedangkan tetesan darahnya yang jatuh di atas tanah membentuk nama Allah.

Mengenang hari itu, seorang guru sufi, Syaikh Saffar, berkata "Aku lebih percaya pada akidah Algojo ketimbang akidah al-Hallaj. Pastilah Algojo itu memiliki akidah yang kuat dalam menjalankan hukum Ilahi. Sebab seruan suara gaib bisa didengar begitu jelas, tetapi tangannya tetap mantap memutilasi putra Manshur itu".

Dalam "Tazkirah al-Awliya", 'Atthar berkata, "Saya heran, kita bisa menerima semak-belukar yang berujar 'Aku adalah Allah', saat Musa as beraudiensi dengan Allah dibukit Tursina, tetapi menolak ucapan al-Hallaj, 'Akulah Sang Kebenaran', padahal itu kata-kata Allah sendiri".

Rumi dalam "Matsnawi", mengatakan, "Kata-kata 'Akulah Kebenaran' adalah pancaran cahaya di bibir Manshur, sementara 'Akulah Tuhan' dari mulut Fir'aun adalah kemusyrikan yang nyata".

Syams, Rumi dan Tradisi Pendidikan

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments
Berbeda dengan kebiasaan dalam dunia pendidikan modern - murid mencari guru, dalam dunia sufi tradisional, gurulah yang mencari murid. Dari pencarian itulah kisah terangkai dan hikmahnya memamcar sampai berabad-abad. Berikut salah satu kisah petualangan seorang syaikh (guru) sufi mencari murid dan suasana pertemuan keduanya.

Setelah pengembaraan yang menghabiskan sebagian besar usianya, sampailah Syams di sebuah daerah bernama Konya. Pagi itu, bulan November 1244, genap ia berusia 60 tahun, Syams berjumpa dengan Rumi.

Rumi tengah berada di padepokan memberikan pelajaran kepada murid-muridnya. Tiba-tiba, seorang pengemis tua bertanya kepada Rumi, "Siapakah yang lebih agung, Bayazid al-Bustami atau Nabi Muhammad Saw?". Rumi menatap pengemis tua itu, dan tanpa ragu ia menjawab, "Nabi Muhammad".

Syams, si pengemis tua itu berkata lagi, "Tapi bukankah Nabi berkata, 'Aku belum mengenalMu sebagaimana Engkau layak dikenal', sementara Bayazid berseru, 'Betapa agung kedudukanku, mahasuci dan mahatinggi diriku'.

Rumi membatin. Ia tidak tahu harus berkata apa. Melihat Rumi diam, Syams menjelaskan, "Kehausan Bayazid akan Tuhan segera terpuaskan setelah meminum seteguk air makrifat, sedangkan kehausan Nabi akan Tuhan tak pernah terpuaskan meski meminum seluruh samudra makrifat".

Rumi menjatuhkan dirinya, bersujud di kaki Syamsuddin Tabriz seraya menangis hingga tak sadarkan diri.

Sumber : Bayat, Mojdeh dan Muhammad Ali Jamnia. Tales from the Land of the Sufis

Lelaki Miskin Itu Adalah Ayahku

9:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

SELAIN meninggalkan wahyu Ilahi sebagai pedoman hidup, Nabi Sawa juga mewasiatkan contoh teladan bagi umatnya. "Aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka, wahyu Ilahi yang hikmahnya membentang dari langit hingga ke bumi dan itrah-ahlul bayitku. Barang siapa yang berpegang kepada keduanya, ia tidak akan sesat sepeninggalku", demikian sabda Nabi kepada jamaah kaum muslimin disaat-saat kritis di atas pemabaringannya.

Dengan hadis itu, kaum muslimin telah memberikan perhatian yang besar kepada al quran, wahyu Ilahi yang hikmahnya memancar dari langit hingga ke bumi. Akan tetapi, sebagian besar kaum muslimin masih mengabaikan pusaka yang kedua dari Nabi: itrah ahlul baitnya. Padahal, pada diri merekalah itu Nabi mewariskan contoh teladannya.

Berikut adalah sepenggal kisah dari ahlul bait Nabi Sawa yang ditinggalkannya sebagai pusaka umatnya.

Di antara kebiasaan ahlul bait Nabi Sawa adalah membuka pintu rumahnya bagi siapa saja hamba Allah Swt yang membutuhkan uluran tangan. Zaman itu, di Madinah, belum ada tempat persinggahan semacam penginapan atau hotel bagi mereka yang bepergian jauh.

Hari itu, seperti hari-hari kemarin, Imam Hasan sa menyembelih seekor onta kecil untuk dihidangkan kepada para peziarah Madinah atau orang-orang miskin pada umumnya.

Seorang Arab Badui (dusun) datang berkunjung ke rumah Imam. Setelah makan, Arab Badui itu duduk sejenak sambil memasukkan makanan ke dalam tas bawaannya.

Melihat itu, Imam Hasan sa menghampirinya kemudian berkata, "Mengapa engkau mesti membungkus? Bukankah akan lebih baik jika engkau datang makan setiap pagi, siang dan malam di sini? Dengan begitu makananmu selalu dalam keadaan segar".

Orang Badui menjawab, "Oh ini bukan untukku. Tadi, dalam perjalanan ke sini, aku berjumpa dengan seorang yang tua dan papa di pinggiran jalan kebun kurma. Wajahnya lusuh dan tangannya memegang sepotong roti keras. Untuk memakannya, ia harus membasahi roti itu dengan sedikit air garam. Aku membungkus makanan ini untuknya. Aku ingin dia juga mencicipi makanan segar seperti yang kau hidangkan untukku".

Mendengar itu, Imam Hasan tak kuasa menahan haru. Tangisannya pecah. Air matanya tak terbendung menetes membasahi janggutnya.

Arab Badui itu heran. Matanya pun berkaca. Ia bertanya, "Mengapa tuan menangis? Bukankah tak ada yang salah jika aku berkenan memberi makan lelaki miskin pinggiran kota itu?"

Dengan wajah yang menengadah ke langit. Imam Hasan sa bertanya, "Saudaraku, tahukah engkau siapa lelaki itu?" "Tidak", jawab Arab Badui itu. "Ketahuilah, kata Imam, "lelaki miskin dengan roti keras yang kau jumpai itu adalah ayahku, Ali bin Abi Thalib. Dan dengan kerja kerasnya di ladang kurma itulah aku bisa menjamu semua orang setiap hari di rumah ini".

Raja Setiap Manusia

8:00 AM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Salah satu bintang kenamaan dalam dunia sufi adalah Abu Said Abu al-Khayr. Ia dikenal sebagai guru para arif paling awal membumikan "spiritual experience" dalam bentuk syair. Ayahnya seorang saudagar kaya yang mengidolakan Raja Mahmud. Berikut, sepenggal kisah tentangnya.

Saat masih kanak-kanak, ayahnya membangun sebuah rumah. Pada dindingnya dihiasi dengan lukisan raja Mahmud. Melihat lukisan itu, Abu Said meminta pada ayahnya agar dibuatkan kamar khusus untuknya tanpa lukisan apa pun. Setelah keinginannya terpenuhi, diam-diam Abu Said melukis kata Allah pada dinding kamarnya.

Suatu ketika, ayahnya masuk ke kamar Abu Said. Ia terperangah, lukisan indah kata Allah memenuhi kamar Abu Said. "Mengapa engkau hiasi kamarmu dengan lukisan ini? ", tanya Ayahnya. "Setiap orang ingin melukis rajanya di dinding rumahnya", jawab Abu Said.

__Sumber: Bayat, Modeh. The Tales of Sufi's Land__

Darwis dan Seekor Burung Beo

11:27 PM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Alkisah, seorang darwis penjual minyak wangi baru saja membeli seekor burung Beo. Beo itu pandai berbicara menirukan bahasa manusia. Ia membantu mempromosikan minyak wangi jualan tuannya. Dalam sekejap, minyak wangi yang dijualnya laris.

Suatu hari, sang darwis meninggalkan toko dagangannya untuk suatu keperluan. Merasa ditinggal tuannya, burung Beo seperti memperoleh kebebasan. Ia terbang kesana kemari hinggap di atas botol minyak wangi. Botol-botol itu pun jatuh ke lantai pecah tercerai berai.

Ketika darwis itu pulang, ia tercengang. Minyak wangi kesayangannya telah membanjiri lantai tokonya. Melihat perilaku burung Beonya, ia naik pitam. Dengan rasa kesal, ia gunduli kepala burung Beo itu.

Merasa diperlakukan tidak adil, Beo itu memilih protes dengan diam seribu bahasa. Aksi Beo itu membuat tuannya -sang Darwis- merasa kesepian. Dia merindukan kembali kicauan burung Beo itu.

Akhirnya, sang Darwis mendatangkan tabib dari berbagai penjuru semesta. Tapi, tak ada seorang pun dari mereka yang dapat mengembalikan kicauannya. Sang Darwis mulai putus asa. Sampai suatu hari, seorang botak lewat di depan tokonya. Beo itu bangkit dengan sayap yang dikepak-kepakkan sambil berkata, "Hai botak, berapa botol minyak wangi yang kau tumpahkan?".

Kepada Beo, orang Botak itu berkata, "Tebu dan bambu serumpun, tapi tebu menghasilkan gula sedangkan bambu hanya kosong melompong.

Tawon dan lebah makan dari tempat yang sama. Tapi yang satu menghasilkan madu sedang yang lain hanya punya sengatan yang mematikan.

Nabi dan kita adalah manusia. Tapi Nabi makan dan keluar cahaya Ahad, sedangkan yang lain makan dan keluar cahaya dengki dan hasad".

Dengarkan nasehat Rumi: Jangan karena ada ayat (Quran) yang mengatakan, "Qul, ana basharu mislukum -Katakan (Muhammad), aku manusia biasa sepertimu". Kamu mengira bahwa antara kamu dan Nabi ada kesamaan. Sungguh tidak, karena antara kamu dan Nabi ada jarak ribuan tahun cahaya.

Janganlah menjadi burung Beo, yang mengira bahwa semua botak itu sama: karena menjatuhkan botol minyak wangi.

__Sumber: Rumi, Jalaluddin. Matsnawi__

Isra Mikraj : Antara Iman dan Akal

11:30 PM Posted by Almin Jawad Moerteza 4 comments
“Addinu huwal ‘aqlu la dinu liman la aqalah; Agama itu akal, tidak beragama bagi mereka yang tidak mempergunakan akalnya” – Hadis -


Bagi sebagian orang, peristiwa Isra Mikraj dianggap tidak boleh diterima oleh akal. Peristiwa itu merupakan sesuatu yang harus diterima oleh iman, ia termasuk ke dalam masalah akidah. Isra Mikraj adalah peristiwa ketika iman kita diuji. Apakah keimanan kita tunduk pada akal, atau akal kita yang sepenuhnya tunduk pada wahyu. Untuk itu, beberapa orang menjadikan ketundukan akal pada wahyu sebagai ukuran keimanan seseorang. Anda akan tergolong mukmin jika menerima begitu saja kebenaran peristiwa Isra Mikraj tanpa perlu Anda pahami. Saya ingin mempertanyakan, betulkah peristiwa Isra Mikraj itu tidak masuk akal? Saya berpendapat, agama itu harus diuji oleh akal; bahkan agama hanya khusus untuk orang-orang yang berakal. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan hal itu. Jadi alangkah mengherankan kalau kemudian agama tidak boleh diterima akal. Untuk memami apakah Isra Mikraj itu masuk akal atau tidak, kita harus menjernihkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan masuk akal itu.

Umumnya, orang menyebut sesuatu itu masuk akal untuk tiga hal; pertama, orang beranggapan bahwa sesuatu itu tidak masuk akal jika sesuatu itu tidak empiris. Yang dimaksud dengan empiris adalah hal-hal yang bisa diukur (verifikiasi), bisa dilihat dengan panca indera, bisa dilacak secara material, serta tidak gaib. Banyak orang yang mengatakan kalau hal-hal yang gaib itu tidak masuk akal. Menurut saya, itu tidak benar. Yang gaib ataupun yang lahir, sama-sama masuk akal. Bila luka disembuhkan dengan mercurochome atau obat merah, kemudian kita bisa lacak secara empiris mengapa obat merah itu bisa menyembuhkan luka, maka orang mempercayainya sebagai hal yang masuk akal. Tetapi ada juga orang yang menyembuhkan luka dengan mebaca Al-Fatihah atau mantra tertentu yang diambil dari ayat-ayat Al-Quran. Nenek saya dapat melakukannya. Ia mengobati luka saya dengan membaca Al-Fatihah: dia tiup luka itu, dan luka itu tertutup kembali. Saya menyaksikannya sendiri. Itu bukan tidak masuk akal; hanya saja tidak bisa dilacak secara empiris. Itulah hal-hal gaib.

Kedua, orang menganggap sesuatu tidak masuk akal kepada hal-hal yang menyimpang dari rata-rata. Pernah disuatu majelis ilmu saya menceritakan tentang kekuatan Imam Ali bin Abi Thalib Kw dalam perang Khaibar. Dalam kisah itu, Imam Ali mengangkat pintu benteng Khaibar sendirian kemudian dijadikan tameng. Setelah perang usai, pintu benteng Khibar itu bahkan dijadikan jembatan. Beberapa orang mencoba mengangkat pintu benteng Khaibar itu tetapi tidak sanggup. Belum selesai saya bercerita, seorang hadirin berkata, “Heran, Anda ini orang yang rasional tapi mempercayai cerita-cerita yang tiak masuk akal seperti itu”. Dia menganggap cerita Imam Ali mengangkat pintu, yang amat berat sendirian yang tidak bisa diangkat oleh puluhan orang lain, sebagai cerita yang tidak masuk akal. Padahal, ia sebetulnya bisa lebih bijak dengan mengatakan, “Peristiwa itu keluar dari rata-rata kebiasaan orang”. Dalam Guinnes Book of Records dicatat ada orang yang bisa menarik pesawat yang sedang lepas landas dengan giginya. Ada juga orang yang menarik mobil dengan kedua daun telinganya. Itu bukan tidak masuk akal, itu hanya menyimpang dari rata-rata. Bahkan, dalam ilmu Statistik,  ada yang dinamakan dengan kurva bel. Di dalamnya selalu terdapat data yang menyimpang dari rata-rata. Ini berarti, yang menyimpang dari rata-rata itu tidak berarti bahwa data itu tidak masuk akal. Karena yang masuk akal itu bukan hanya yang rata-rata atau yang biasa saja.

Ketiga, banyak orang yang menganggap sesuatu itu tidak masuk akal karena ketiadaan pengetahuan atau tidak memahaminya. Bagi saya, inilah cara berpikir yang paling primitif diantara cara berpikir sebelumnya. Orang yang berpikir dengan cara seperti ini sering menjeneralisir apa yang tidak dipahaminya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, meskipun sesuatu itu dipahami oleh orang lain. Saya ingin mengingatkan, hendaklah kita tidak mudah menganggap sesuatu itu tidak masuk akal hanya karena kita belum memiliki ilmu tentang sesuatu itu; hanya karena akal kita belum sampai di situ. Sehingga kita mengatakan bahwa peristiwa Isra Mikraj itu tidak masuk akal, dan, karena itu, tidak usah diterima oleh akal melainkan harus diterima dengan iman saja.

Menurut saya, peristiwa Isra Mikraj itu adalah peristiwa yang sangat masuk akal dan bahkan sangat logis. Hanya saja memang peristiwa ini tidak empiris, tidak tunduk pada hukum-hukum fisika biasa. Bagi saya, semua ajaran agama itu bisa kita renungkan melalui akal kita. Dalam bukunya Isra Mikra; Sebuah Pandangan Alternatif, Nashir Makarim Syirazi mengatakan bawa hakikat-hakikat agama yang telah terbukti kebenarannya mesti memiliki keselarasan dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang sudah pasti kebenarannya.

Saya ingin menjelaskan peristiwa Isra Mikraj itu secara analogis untuk memperoleha pahaman yang logis. Hal ini menunjukkan berbagai macam cara orang menjelaskan Isra Mikraj, bergantung tingkat akalnya masing-masing.

Alkisah, seekor lalat higgap di atas susu yang diminum seorang penumpang yang sedang menunggu pesawat terbang. Ketika orang itu naik pesawat (boarding), lalat itu ikut menempel pada pakaiannya dan ikut terbang ke Singapura. Saat pesawat itu kembali ke Jakarta, lalat itu ikut lagi. Di bandara Jakarta, lalat itu bercerita kepada lalat-lalat lain yang tengah berkerumun bahwa ia baru saja kembali dari Singapura. Lalat yang lain mengatakan bahwa ini tidak masuk akal sambil mengatakan bahwa kemampuan terbang lalat pada dasarnya hanya beberapa kilometer saja. Bagaimana mungkin ia terbang ke Singapura dan balik lagi ke Jakarta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Abdul Gafur, seorang kolomnis di Harian Pelita, yang mengisahkan cerita di atas, mula-mula gelisah memikirkan peristiwa Isra Mikraj sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Begitu mendengar cerita lalat itu, kegelisahannya hilang. Seperti Abdul Ghafur, saya juga mengalami kebingungan dalam memahami peristiwa Isra Mikraj. Tetapi kebingungan saya segera hilang setelah membaca cerita di atas. Kini, kepada Anda, saya juga ingin mengisahkan cerita itu untuk menghilangkan kebingungan Anda perihal peristiwa Isra Mikraj.

Berdasarkan satu hadis, saya sangat percaya bahwa agama itu sanga mudah diterima oleh akal. Walaupun banyak orang yang mengatakan hadis ini dha’if, tetapi hadis ini memiliki matan yang benar. Hadis itu berbunyi: “Addinu huwal ‘aqlu la dinu liman la aqalah; Agama itu akal, tidak beragama bagi mereka yang tidak mempergunakan akalnya”. Jadi dalam peristiwa Isra Mikraj, kita tidak usah ragu menggunakan akal kita. Jangan gunakan alasan iman untuk mematikan akal dan untuk menghambat pikiran kita. Sekali-kali jangan katakan sesuatu tidak masuk akal hanya karena anda tidak memahaminya.

Akan tetapi, akal saja tidak cukup. Kita percaya bahwa di dalam agama Islam, akal bukanlah satu-satunya cara untuk mengetahui sesuatu; paling tidak ada tiga cara. Cara yang pertama ialah dengan penginderaan; seeing is believing. Kita mengetahui sesuatu setelah kita melihatnya. Menurut Al-Quran, cara itu adalah cara yang paling elementer tingkatannya. Cara yang kedua, kita bisa mengetahui adanya sesuatu lewat akal pikiran kita, walaupun indera kita tidak melihatnya. Cara yang ketiga – belum ada nama untuk cara ini – sebagian orang menyebutnya dengan rasa. Tetapi perasaan itu sangat rendah dan bahkan sering keliru dalam memahami sesuatu. Jadi sebut saja itu mengetahui dengan kalbu. Menurut ahli Irfan, kia bisa mengetahui sesuatu tidak lewat akal, tidak juga lewat penginderaan, tetapi melalui riyadhah, dengan mendekatkan diri kita kepada Allah. Allah akan memberikan ilmu itu jika kita benar-benar bertaqarrub kepada-Nya. Jadi, ada ilmu yang diberikan Allah secara langsung kepada seseorang setelah ia mendekati-Nya. Dengan kata lain, ada ilmu yang diperoleh hanya dengan menjalankan ibadat-ibadat tertentu. kadang-kadang ilmu seperti itu boleh jadi bertentangan dengan kedua cara yang lain itu. []

Di Teras Cinta-Mu

11:03 PM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments
Di Teras Cinta Tuhan

Di teras Cinta-Mu
aku masih setia sebagai budak-Mu
meski pintu tak Kau buka
kuyakinkan, hatiku semakin suka
sebab setiap kulantunkan syair
Kau jawab mesra dari balik tabir
dan malaikat pun bersaksi mengucap takbir

Di teras Cinta-Mu
izinkan aku memainkan seruling Daud sang perkasa
biarkan melodinya runtuhkan Jalut si penguasa
seperti damai tenangkan jiwa yang sedang kalut
atau mengusir sepi yang membuat rapuh dan takut

Di teras Cinta-Mu
takdirkan aku untuk warisi kapak Ibrahim
kan kupenggal kepala berhala sejak dari rahim
hingga tak ada lagi tuan selain Cinta
karena Engkau hanya patut disembah dengan Cinta

Di teras Cinta-Mu
bantu aku tegakkan tongkat Musa
supaya akalku berubah bak ular berbisa
melumat cacing-cacing hati yang punya bisa
selama hayat, selagi aku bisa
beri aku karunia untuk alirkan kasih Isa
lewat Muhammad yang mengajarkan sujud bertilam kemanusiaan

Di teras cinta-Mu
tak peduli seberapa lama aku berdiri
mengharapkan kemurahan-Mu
karena Zakaria telah melakukannya
dan Engkau membisikkan rahasia cinta untuknya

Di teras Cinta-Mu
tak peduli pada seruan suraga dan neraka-Mu
bukankah Rabi’ah telah lama memusnahkannya
maka tak ada lagi alasan untuk meyembah-Mu
kecuali semata-mata karena Cinta

Makassar, 05 November 2010

Nasehat Sa’di Buat Penguasa

9:59 AM Posted by Almin Jawad Moerteza 4 comments
Hati-hatilah pada jeritan hati yang terluka
Deritanya yang tersembunyi akan terlambat kau sadari
Jika mampu, jangan buat siapa pun menderita
Karena jeritan derita dapat mengguncang dunia. -- Sa'di --

The sufi poet of Persia.
Setelah Jalaluddin Rumi, Sa’di adalah pujangga sufi kedua yang paling saya kagumi. Ia tidak saja mengantarkan kita terbang menuju langit spiritual dengan kearifan. Dia juga membawa kita ke bumi sosial melalui kritiknya yang pedas kepada para penindas. Karena itulah, kisah-kisahnya yang bernada satire mengusik ketenangan para tiran. Puisinya yang tajam menggetarkan istana raja lalim.

Nasehat dan doanya membuat para penguasa gelisah di atas kasurnya yang empuk. “Bar ra’yat-e zhaif rahmat kun, ta az dusyman-e qawiy rahmat nabini”, kata Sa’di (Perlihatkan kasi sayangmu kepada rakyat yang lemah, supaya kamu dilepaskan dari gangguan musuhmu yang kuat). Nasihat itu ia berikan kepada seorang tiran yang meminta doa darinya untuk mengalahkan musuh-musuhnya ketika Sa’di sedang berziarah ke kuburan Nabi Yahya di Damaskus.

Jika di Yunani, raja dan rakyat datang ke tempat pemujaan Apollo yang terkenal di Delphi untuk meminta nasehat, maka di negeri penguasa, para tiran datang meminta nasehat kepada Sa’di. Kepadanyalah penguasa memohon doa dan meminta petunjuk. Dengan rendah hati, Sa’di menyampaikan nasehatnya. Raja yang mengikuti nasehatnya selamat. Sedang yang meremehkan nasehatnya semuanya binasa.

Dalam Gulistan, ia menyuguhkan tidak kurang dari 40 cerita untuk mengkritik para penguasa. Saya hanya akan menceritakan beberapa diantaranya (yang layak bagi kamu). Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat cegahan (dari kekafiran), Quran 54:4.

Alkisah, seorang zalim mengambil kayu bakar dari orang miskin dengan paksa. Kemudian, ia memberikannya kepada orang kaya. Seorang salih lewat di hadapannya dan memberi nasehat: “Apakah kamu ular yang mematok siapa pun yang kamu lihat, ataukah kamu burung hantu, di mana pun kamu duduk kamu mematuk siapa saja? Sekiranya kekejian kamu itu lewat begitu saja di hadapan kami, ia tidak akan luput dari pengamatan Tuhan. Hati-hati, penduduk bumi yang kamu zalimi akan melawanmu dengan doa mereka ke langit”.

Orang zalim itu tidak perduli dengan apa yang dikatakan si bijak. Suatu malam, api menjalar dari dapur, membakar bongkah-bongkah kayu, melahap seluruh kekayaannya, melemparkan dia dari ranjang yang empuk ke tumpukan debu. Saat itu orang saleh lewat lagi di hadapannya. Ia sempat nguping pembicaraan si zalim itu kepada kawan-kawannya, “Aku tidak tahu dari mana asal api yang membakar rumahku ini?” Orang saleh itu berkata, “Dari hati orang-orang miskin”.
Hati-hatilah pada jeritan hati yang terluka
Deritanya yang tersembunyi akan terlambat kau sadari
Jika mampu, jangan buat siapa pun menderita
Karena jeritan derita dapat mengguncang dunia
Seorang raja yang tidak adil bertanya kepada orang salih, “Bagiku, apa ibadah yang paling baik?” Ia menjawab, “Bagimu, ibadah yang paling baik adalah tidur di siang hari. Dengan begitu, kamu berhenti sejenak dari menindas manusia”.
Kudapati seorang tiran berbaring
Kataku, lebih baik bencana ini tetap terbaring
Siapa saja yang tidurnya lebih baik dari bangunnya
Lebih baik memilih mati orang yang jahat hidupnya
Raja Nusyirwan yang bijak.
Tidak hanya bercerita tentang para tiran, Sa’di juga berkisah tentang Nusyirwan, tokoh yang terkenal adil. Suatu waktu, Nursyirwan berburu. Pejabat teras istananya mempersiapkan segala kelezatan untuk makannya. Namun, garam tidak ada. Mereka mengutus seorang budak untuk mencari garam di desa terdekat. Budak itu pulang dengan membawa garam ditangannya. Nursyirwan bertanya, “Apakah sudah kau bayar garam ini?” “Tidak”, jawab budak itu. “Bayarlah garam yang kamu ambil”, seraya memberi budak itu beberapa keeping uang, “supaya pengambilan garam begitu saja tidak menjadi kebiasaan, nanti desa itu akan hancur”. Mereka berkata, “Apa ruginya? Kita hanya mengambil sedikit saja”. Raja berkata, “Semua kezaliman bermula dari yang sedikit. Kemudian setiap orang sesudah itu menambahnya, hingga akhirnya menjadi sangat besar”.
Jika raja makan sebutir apel dari kebun rakyat
Anak buahnya akan mencabuti semua pohonnya
Orang zalim tidak selalu abadi
Tetapi laknatnya akan terus lestari.
Sepertinya negeri ini butuh raja seperti Nursyirwan dan ulama seperti Sa’di, agar para penguasa tidak mencabut semua nyawa di negeri ini dan ulamanya tahu bagaimana memberi nasehat yang baik dan benar. Pasalnya, negeri ini menjadi langganan bencana yang beruntun. Sekiranya penguasa negeri ini meminta nasehat, maka sampaikan nasehat Sa’di seperti dalam kisah berikut ini:

Seorang sufi, yang doanya selalu dikbaulkan Tuhan, datang ke Baghdad. Seorang penguasa yang sangat kejam, Hajjaj bin Yusuf, memanggilnya. “Tolong mohonkan kebaikan untukku”, kata Hajjaj kepadanya. Sang sufi berdoa, “Tuhan, ambillah nyawanya”. “Demi Allah, doa macam apa ini?” kata Hajjaj. Dia menjawab, “Inilah doa yang baik untukmu dan untuk seluruh kaum Muslimin”.
Hai Penindas! Penindas rakyat tak berdaya
Betapa cepatnya kerajaanmu akan binasa
Apa untungnya kekuasaan bagimu
Ketimbang menindas, kematian lebih baik bagimu.[]

Maulid: Buahkan Kecintaan Kepada Nabi II

5:29 PM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments

Ayat-ayat Kitab Suci telah memujimu – bagaimana
bisa syair mudahku melukiskan kemuliaanmu.



Mengambil berkah dari peringatan Maulid Nabi SAW.
Dalam sebuah seminar tentang Maulid, saya pernah dibid’ahkan hanya karena menganjurkan Maulid sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah. Menurut kawan saya yang ustaz itu, maulid merupakan kebiasaan jahiliah yang feodalistik. Waktu itu, saya hampir tidak melanjutkan pembicaraan. Tapi, segera saya mengurungkan niat saya itu. Saya lalu menunjukkan kepada dia bukti-bukti bahwa ulama yang ia kutip perkataannya – yang katanya membid’ahkan maulid – juga sebetulnya manganjurkan maulid. Jalaluddin As-Syuti, misalnya, yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyimpan perbendaharaan sunah Rasulullah kemudian dibukukan dalam bentuk prosa, puisi dan syair-syair pujian untuk Rasulullah dari orang-orang Anshar dan Muhajirin saat menyambut kedatangan Nabi di Madinah.
Di dalam shalawat juga, ada doa, misalnya dalam Shalawat Badriyah. Ada juga salawat lain yang terkenal dan dianggap sangat mujarab untuk mengatasi berbagai kesulitan. Karena itu, shalawat itu disebut dengan shalawat untuk melepaskan kesulitan atau Shalawat Munfarijah. Dan dalam shalawat itu terkandung pujian berupa salam kepada Rasulullah. Jadi, kebiasaan melazimkan shalawat adalah salah satu upaya kaum Muslim untuk memelihara kemuliaan Rasulullah.

Dulu, sebenarnya orangtua kita sudah meninggalkan “warisan” tentang cara mencintai dang menghidupkan keimanan kita dengan banyak membaca shalawat kepada Rasulullah, dengan tata cara yang telah dirumuskan. Misalnya, ketika seorang anak lahir, diadakan akikah yang di dalam marhabanannya dibacakan shalawat kepada Nabi Muhammad. Dibacakannya juga Al-Barzanji yang berisikan kisah-kisah kehidupan Rasulullah. Setelah itu, dikelilingkan kepada yang hadir pada resepsi itu, kemudian di telinganya diperdengarkan shalawat dan salam dari orang disekitarnya. Sekarang sains dapat membuktikan bahwa telinga anak yang baru lahir sudah dapat merekam suara yang ada disekitarnya.

Demikian pula saat anak hendak dikhitan, sebelum dibawah ke rumah sakit, seorang anak diperdengarkan dahulu dengan gemuruh suara lantunan orang yang membacakan shalawat dan salam kepada Rasulullah. Sama halnya dalam pernikahan, bahkan dikampung saya, Buton, pengantin lelaki akan diantar menemui pengantin perempuan dengan iringan rebana dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad. Dan kalau orang itu meninggal dunia, dibacakan tahlil dan dalam tahlilan itu dibacakan shawalat kepada Rasulullah untuk dimohonkan syafaatnya agar dapat menghidupkan keimanan orang yang meninggal dunia itu pada kebenaran di akhirat kelak.

Termasuk diantara cara mengikat atau menambah kecintaan kita kepada Rasulullah adalah mengkhususkan bulan kelahirannya dengan membacakan riwayat hidup beliau. Riwayat-riwayat yang ditulis para ulama itu disebut Maulid. Di Indonesia, peringatan hari kelahiran Nabi itulah yang disebut Maulid. Padahal, Maulid berarti tulisan-tulisan, baik prosa, puisi, syair dan sajak, maupun lain-lain yang menceritakan kisah Rasulullah dengan penuh kecintaan. Salah satu contohnya adalah Al-Barzanji yang sering di baca oleh orang di nusantara. Jadi, peringatan Maulid adalah salah satu rekayasa atau usaha kaum Muslimin untuk menyiramkan kecintaan kepada Rasulullah dengan berbagai kegiatan. Jika tengok kesusasteraan dunia Islam, kita akan dapati bahwa puisi, prosa, syair dan sajak banyak dihiasi oleh bacaan-bacaan shalawat. Contohnya, apa yang dilakukan oleh penyair Sana’i ketika ia bersenandung:

          Mengapa manusia, malaikat dan jin tak memujimu
          Padahal Allah SWT sendiri telah memujimu

Atau dalam bait-bait sajak penulis Spanyol, Lisanuddin ibn Al-Khatib:

          Ayat-ayat Kitab Suci telah memujimu – bagaimana
          bisa syair mudahku melukiskan kemuliaanmu.

Dalam tafsir Al-Durr Al-Mantsur karya Jalaluddin Al-Syuti, disebutkan bahwa dampak dan pengaruh mencintai Allah, Rasulullah, dan keluarganya, diantaranya ialah perasaan tentram di dalam hati.

Ketika menjelaskan ayat, Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, dengan zikir kepada Allah, hati menjadi tentram (QS. Al-Ra’d [13]:28), beberapa sahabat bertanya, “Siapakah yang tentram karena zikir kepada Allah?” Rasulullah bersabda, “Orang-orang yang tentram adalah orang yang mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, dan mencintai keluargaku dengan kecintaan yang tulus; bukan kecintaan yang dusta”. (Al-Durr Al-Mantsur, di dalam Jalaluddin Rakhmat, 2009, h. 205).

Sa’di, penyair sufi dari Persia, dengan indah menyuguhkan kepada kita puisinya;

          Balagha al-‘ula bi kamalihi
          Kasyafa al-duja bi jamalihi
          Hasunat jami’u hishalihi
          Shallu ‘alayhi wa alihi

          Mencapai ketinggian dengan kesempurnaan
          Menyingkap kegelapan dengan keindahan
          Sungguh indah seluruh perilakunya
          Samapaikan salam padanya dan keluarganya

Begitu pokoknya kecintaan kepada Nabi, sehingga di dalam shalat, kita akhiri salat kita dengan mengucapkan salam kepadanya dan kepada semua hamba yang saleh, yang masih tetap hidup di sisi Allah. Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish Sahalihin.[]

Maulid: Buahkan Kecintaan Kepada Nabi I

1:36 PM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments
"Orang yang sedang jatuh cinta, ia akan sering membasahi bibirnya dengan sebutan nama kekasihnya. Menyebut nama orang yang kita cintai telah menjadi demam yang menggetarkan, telah menjadi ‘acute fever’."


Buah syafaat kecintaan kepada Al-Mustafa.
“Agama dalam bentuk apa pun dia muncul tetap merupakan kebutuhan ideal umat manusia”, demikian kata Anselm von Feuerbach, seorang ahli hukum yang terkenal. Bagi Feuerbach, peranan agama menentukan gairah dalam setiap bidang kehidupan. Tanpa agama, manusia tidak dapat hidup sempurna. Will Durant, penulis yang tidak percaya kepada agama mana pun, dalam bukunya The Lessons of History menulis[1]: “Agama memiliki seratus jiwa. Segala sesuatu jika telah dibunuh pada kali pertama itu pun ia sudah mati untuk selama-lamanya, kecuali agama. Sekiranya ia seratus kali dibunuh, ia akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu”. Apa yang membuat agama dapat bertahan hidup – di tengah pasar bebas ideology yang menjamur - hingga hari ini? Untuk menjawab pertanyaan sederhana itu, para peneliti agama memberikan jawaban yang berbeda-beda. Sebagian menjawab, tumbuh suburnya agama dalam masyarakat karena agama memiliki dimensi sosial dalam dirinya. Dimensi sosial adalah consequential dimensions yang memanifestasikan ajaran agama dalam kehidupan. Dan sebagian lagi berpendapat bahwa agama hidup dan berkembang karena dimensi ritual-mistikal sebagai ruh yang menggerakannya. Bukan maksud tulisan ini untuk membicarakan berbagai pendapat tentang ruh yang menghidupkan agama itu. Saya hanya akan menjelaskan dimensi ritual-mistikal dalam tradisi masyarakat muslim.

Annemarie Schimmel, lewat bukunya And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety, merekam kebiasaan umat Islam di berbagai belahan bumi dan dengan yakin ia menyampaikan kepada kita bahwa melalui kecintaan kepada Muhammadlah Islam itu dapat hidup hingga abad ini. Dan kecintaan itu dieksperesikan melalui gubahan puisi dan prosa tentang Rasulullah. Dalam literatul Islam, kumpulan puisi dan prosa itu dikenal dengan istilah maulid. Jadi, maulid adalah ekspresi kecintaan umat Islam kepada Nabi SAWW dengan membacakan shalawat, sejarah dan perilaku Nabi dalam bentuk prosa dan puisi untuk mengambil berkah darinya. Menurut Schimmel, melalui tradisi maulid inilah Nabi yang mulia dikenang, dan dihadirkan di tengah-tengah masyarakat Islam, bahkan hidup dalam hati anak-anak sepanjang sejarah.

Bagi orang Islam, menghormati dan memuliakan Rasulullah adalah kewajiban utama. Diantara cara memuliakan beliau yaitu dengan mengubah syair-syair pujian untuknya. Kewajiban lainnya yaitu membiasakan membaca shalawat dan salam bagi beliau. Mengapa harus “membiasakan membaca shalawat”? Sebab, sering orang sangat sukar membaca shalawat, kecuali jika ia sudah mencintai. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, ia akan sering membasahi bibirnya dengan sebutan nama kekasihnya. Begitu Anda jatuh cinta kepada seseorang, Anda akan sering menyebut namanya. Jadi, salah satu tanda cinta adalah menyebut nama orang yang dicintai. Dan menyebut namanya tentu saja akan berbeda dengan menyebut nama yang lain, kerena ada getaran tertentu di dalamnya. Menyebut nama orang yang kita cintai telah menjadi demam yang menggetarkan, telah menjadi ‘acute fever’. Begitu pula kecintaan kita kepada Rasulullah. Kita akan menyebut namanya berbeda dengan nama-nama lain. Ia menjadi obat bagi rindu yang diderita. Sultan Mamluk Qaitbay dari Mesir dengan indah mengambarkan Nabi SAWW sebagai penyembuh derita dalam senandung syairnya:

          Inilah kekasih Allah,
          Dokter untuk segala penyakit
          Lihat, yang mulia, satu, dan unik ini,
          Di tengah lahan penengahan![2]

Dahulu sahabat sering mengambil sesuatu yang berasal dari Rasulullah atau sesuatu yang pernah disentuh Rasulullah untuk mengambil berkah darinya. Misalnya, menyentuh mimbar yang pernah disentuh Rasulullah. Beberapa wanita yang dekat dengannya dikisahkan telah mengumpulkan keringat Nabi yang mulia untuk digunakan sebagai parfum. Para sufi meyakini, ketika Rasullullah melakukan perjalanan ke langit, ketika sedang menuju keharibaan Ilahi, beberapa tetes keringatnya jatuh ke bumi. Dan dari tetes-tetes itu muncullah bunga mawar pertama yang menguluarkan bau wangi. Masih menurut para sufi, melalui tetes-tetes keringat yang menjelma dalam wewangian mawar itu, orang yang beriman masih dapat menikmati wanginya bau tubuh Nabi. Rumi dalam syairnya bersenandung:

          Akar dan cabang bunga-bunga mawar itu
          Adalah keringat wangi Mushthafa,
          Dan dengan kekuatannya bentuk sabit bunga mawar
          Berubah menjadi bulan purnama.[3]

Puisi populer Pashto menyebutkan bahwa kelopak-kelopak bunga mawar menjadi bersemu merah karena malu ketika Rasul yang sangat tampan itu memasuki taman. Jadi warna bunga mawar itu berasal dari ketampanannya. Jami’, seorang penyair sufi, menggoreskan bait-bait sajaknya untuk Nabi:

          Mawar yang merupakan keringat wajahnya,
          Hanyalah embun yang menetes dari taman mawarnya.

Sebuah syair maulid dalam bahasa Sindh[4] menggambarkan pengaruh Rasullah terhadap wewangian bunga mawar:

          Semua bunga merekah dan berubah menjadi kuntum bunga mawar
          Ketika Nabi memasuki taman itu.

Seperti bunga mawar, hati seorang muslim akan mekar ketika menggumamkan nama Rasul. Menyebut namanya merupakan ungkapan kecintaan. Karena shalawat adalah menyenandungkan nama Nabi Al-Mushthafa, maka shalawat adalah tanda kecintaan kepada Muhammad yang mulia.

Dalam The Golden Bough: A Study in Magic and Religion, Sir James George Frazer membagi prinsip-prinsip magic menjadi dua macam. Pertama, memiliki ilmu gaib karena melakukan kontak atau hubungan langsung dengan benda yang pernah disentuh oleh orang yang berilmu gaib. Misalnya, dalam suatu masyarakat, jika orang ingin “merebut cinta” seorang wanita, diambillah sesuatu yang pernah disentuh oleh wanita itu. Frazer menyebutnya Law of Contact. Ilmu gaibnya disebut Contaginus Magic. Kedua, ilmu gaib yang diperoleh melalui hukum kesamaan, Law of Similarity. Ilmu gaibnya disebut Imitative Magic. Jika kita menginginkan sesuatu dengan kekuatan gaib, kitam menggunakan media yang mirip dengan apa yang kita inginkan. Dulu, misalnya, apabila orang menginginkan datangnya angin, ia melakukan dengan bersiul. Bersiul merupakan semiotisasi (penandaan) yang dianggap sama dengan datangnya angin. Kebiasaan itu ternyata ada hampir di seluruh bangsa di dunia. Peristiwa ini dahulu dianggap tidak ilmiah. Belakangan, melalui penelitian yang mutakhir, diketahui ternyata kejadian ini terbukti benar.

Dari sudut fisika kuantum, kejadian itu cukup masuk akal. Teorema Bell, yang diperkenalkan oleh ahli fisika John Stewart Bell pada 1964, memberikan argumentasi ilmiah tentang hal ini. Bell berpendapat bahwa sekali dua atom berhubungan dan saling mengikatkan diri, maka hubungan itu akan terus dibangun sekalipun lokasi dan posisi kedua atom itu sudah terpisah. Dengan cara tertentu sebuah atom dapat mengetahui apa yang terjadi pada atom pasangannya. Jadi, atom yang ada pada tubuh kita bukan tidak mungkin memiliki hubungan batiniah dengan Rasulullah melalui benda-benda yang telah disentuhnya. Sebagaimana Rasulullah dapat ‘berhubungan’ langsung dengan Allah tanpa perantara karena Rasul adalah cahaya yang diciptakan langsung oleh Allah Yang Maha Pencipta.

Kalau kita memerhatikan tradisi para sahabat dalam mengambil berkah dari apa saja yang pernah bersentuhan dengan Rasulullah, seakan-akan magic yang ada dan tersebar diseluruh dunia ini mempunyai pembenaran, bukan saja agama tapi juga sains. Perhatikanlah bagaimana obeng yang telah bersentuhan dengan magnet, obeng itu akan berubah menjadi magnet yang dapat menarik benda besi lainnya kepadanya. Melalui tradisi maulid, kita ingin menghidupkan jiwa kita yang telah mati dengan bersalawat dan mengucapkan salam kepada baginda Rasulullah. Dan jiwa kita hanya dapat bisa hidup jika disentuh oleh ruh Muhammad yang menghidupkan. Karena itulah Allah berfirman, “Dan tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan untuk menebarkan kasih di seluruh penjuru alam semesta”, (QS. Al-Anbiya [21]:107). Dan kasih Nabi itu adalah kehidupan bagi mahluk Tuhan seluruhnya. Tanpa kasih itu, manusia dan mahluk seluruhnya tidak akan tercipta. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman, “Sekiranya  bukan karena kecintaanKu kepadamu (Muhammad), Aku tidak akan menciptakan alam semesta ini berserta isinya”.

Untuk itu, beberapa saat setalah Rasulullah meninggal dunia, para sahabat mendatangi kuburan beliau dan mengambil tanah untuk diusapkan ke wajah mereka, karena mereka mengetahui bahwa tanah itu bersentuhan dengan tubuh Rasulullah yang mulia. Dari kecintaan itulah, mereka mengusapkan tanah itu; dan ini bukan termasuk kemusyrikan. Ini adalah ekspresi kecintaan yang menggelora pada Nabi, karena dengan begitu iman dan tubuh mereka menjadi hidup kembali. Kalau banyak jamaah haji yang mencium hajar aswad dengan tanpa sabar, bukan berarti mereka menuhankan hajar aswad. Begitu pula dengan orang Islam yang menjenguk kuburan Rasulullah dengan linangan air mata, ketahuilah bahwa itu timbul karena kecintaan mereka terhadap beliau; tidaklah dimaksudkan untuk menuhankan Rasulullah. Janganlah kita menuduh dengan prasangka orang-orang yang meluapkan cintanya kepada Rasulullah sebagai musyrik apa lagi kafir. Janganlah kita menyatakan suatu perbuatan itu musyrik hanya karena kita belum punya pengetahuan tentang perbuatan itu. Hanya karena akal kita belum sampai pada makam itu.

Dan coba banyangkan, bagaimana orang mencintai Michael Jackson bertemu dengannya. Mereka akan meneriakkan namanya, bahkan menjerit histeris sambil menangis. Bahkan, ketika dia datang ke Singapura, banyak diantara penggemarnya yang datang ke sana adalah orang-orang yang bukan dari Singapura sendiri. Mereka menjerit dengan jeritan yang sama dalam nada serentak, Michael Jackson!

Begitu juga ketika Zinedine Zidane, salah seorang mantan kapten yang memperkuat tim sepak bola asal Perancis, atau Julia Robert datang ke Bali untuk syuting film Eat, Pray and Love, ribuan orang datang untuk melihat Julia. Mereka ingin menyentuhnya, berfoto bersamanya, paling tidak, menyentuh bekas injakan kakinya. Itu semua disebabkan oleh kerinduan seseorang untuk mencintai seseorang.

Dan bukan tidak mungkin pula bahwa yang datang adalah kaum Muslim yang sudah kehilangan kecintaan mereka terhadap Rasulullah, karena kecintaan terhadap Rasulullah sudah direkayasa untuk disingkirkan dengan berbagai cara. Misalnya dengan menyebut bahwa hal itu sebagai bid’ah dan musyrik. Orang yang mengatakan bahwa mencintai Rasulullah adalah bid’ah dan musyrik bukanlah tokoh yang layak kita cintai dan bukan tokoh yang patut diberi kecintaan tulus kepadanya. Tapi, itulah yang banyak terjadi sekarang. Banyak orang Muslim sendiri yang ingin mengikis kecintaan Rasulullah dari hati orang-orang yang mencintainya.[]

(Bersambung...)


[1] Will Durant, The Lessons of History, di dalam Muthahhari, Manusia dan Agama, Mizan, 2007, h. 47
[2] Zajaczkowski, Poezje strofniczne Sultan Qansuh Gavri, di dalam Annemarie Schimmel, Dan Muhammad Utusan Allah: Penghormatan Terhadap Nabi Saw Dalam Islam, Mizan, 2001, h. 129.
[3] Rumi, Diwan, no. 1348.
[4] Baloch, Maulud, di dalam Annemarie Schimmel, Dan Muhammad Utusan Allah: Penghormatan Terhadap Nabi Saw Dalam Islam, Mizan, 2001, h. 55.

_____________________________________

Tulisan ini pernah diterbitkan olah buletin Mitsal edisi 35 Thn. III/Rabiul Awal 1432 H/Maret 2011

Aku Merasakan Dia Berbisik

3:48 PM Posted by Almin Jawad Moerteza No comments
Trance Mystical Sufi Dance


di  hamparan selimut kabut malam
ku menari manja bagai Rumi
mengobati jiwa yang sedang kelam
yang lama tertimbun tumpukkan jerami

aku merasakan Dia berbisik
pada setiap jiwa yang terusik:
“Bakar dirimu dengan api Cinta
biarkan debunya menjadi tinta
dan dengannya tuliskan huruf abadi
karena fadilahnya yang lestari
kan mengubah hati yang lagi sendu
menjadi tempat sesakkan rindu”

seperti guruku telah berkata:
“Tidak terukir huruf dalam hati selain alif*
mana mungkin kusebut huruf taklif
sedang dia hanya membisikkan itu saja
hingga jiwaku bersahaja”.

dalam kerinduan penuh asmara
aku merasakan Dia berbisik mesra:
“Kusimpan Cintamu dalam hati,
dengan begitu, kasihmu tak bisa mati”

kulantunkan puisi di depan Kekasih
iramanya dengungkan terima kasih:
“Gelora cintaku pada Paduka,
telah padamkan semua api duka
hingga ke mana pun kuhadapkan wajahku
di situ wajah-Mu”**



Makassar, 18 Oktober 2010
________________________________
*Puisi goresan Imam Khomeini
**Quran, Al-Baqaarah [2]:115